Kompetisi kopi spesialti kembali didominasi oleh Gesha setelah sempat bereksperimen dengan varietas yang kurang dikenal. Para produsen dan penyangrai kini memadukannya dengan spesies yang sebelumnya terabaikan seperti Liberika di tengah volatilitas harga dan tekanan iklim. Pergeseran ini menyoroti fokus baru pada ketahanan dan kelayakan komersial.
Ajang World Barista dan Brewers Cup baru-baru ini menunjukkan Gesha kembali ke posisi puncaknya. Hampir setiap finalis di World Barista Championship 2025 menggunakan varietas tersebut, sementara seluruh finalis World Brewers Cup 2026 kecuali satu orang juga melakukan hal yang sama.
Para peserta kompetisi semakin sering memasangkan Gesha dengan Liberika alih-alih hanya mengandalkan jenis baru yang eksklusif. Jason Loo dari Malaysia menempati posisi keempat pada ajang 2025 dengan campuran Liberika Malaysia dan Gesha Panama. Jill Hoff, Juara Barista Kanada 2026, menggunakan Liberika Indonesia yang dicampur dengan Chakira dalam penampilan kemenangannya.
Para pelaku industri menunjukkan bahwa faktor ekonomi dan lingkungan menjadi pendorong perubahan ini. Michael Harris Conlin, tiga kali Juara Barista Filipina, mencatat bahwa para produsen kini mempertanyakan apakah varietas tersebut produktif, tahan banting, dan dapat dikembangkan. Olin Patterson dari Excelsa Coffee Company mengatakan bahwa iklim yang rentan kekeringan meningkatkan minat terhadap Excelsa karena toleransinya dan manfaat peneduhnya.
Tren ini mencerminkan langkah yang lebih luas menuju kopi yang menyeimbangkan antara kebaruan dan kepraktisan. Seperti yang disimpulkan Michael, peningkatan kualitas di masa depan kemungkinan besar akan datang dari kombinasi genetika, pemrosesan, dan terroir, bukan sekadar dari varietas langka saja.