Arus samudra Atlantik melemah selama dua dekade, menurut penelitian

Sistem arus Samudra Atlantik utama yang mengatur iklim global telah melambat selama hampir 20 tahun. Penelitian baru memberikan bukti langsung mengenai penurunan tersebut di wilayah yang luas di Atlantik Utara.

Para ilmuwan di University of Miami Rosenstiel School of Marine, Atmospheric and Earth Science memimpin penelitian ini. Mereka menganalisis data dari empat rangkaian pemantau dasar laut yang membentang dari daerah tropis hingga garis lintang menengah. Instrumen tersebut mengukur tekanan, suhu, dan arus untuk melacak aliran laut dalam di bawah 1.000 meter.

Artikel Terkait

Penelitian baru menunjukkan bahwa upaya untuk mengurangi polusi udara di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur dapat mempercepat pelemahan Sirkulasi Pembalikan Meridional Atlantik (AMOC). Arus laut ini memainkan peran kunci dalam mengatur iklim Eropa. Para ilmuwan menggunakan berbagai model iklim untuk menilai dampaknya di bawah kondisi emisi gas rumah kaca yang terus tinggi.

Dilaporkan oleh AI

Sebuah area pendinginan laut di tenggara Greenland, yang dikenal sebagai gumpalan dingin (cold blob), kemungkinan besar disebabkan oleh melambatnya Sirkulasi Pembalikan Meridional Atlantik (AMOC), menurut penelitian baru. Temuan ini menambah kekhawatiran mengenai potensi dampak iklim di masa depan di Eropa dan sekitarnya. Para ilmuwan masih terbagi mengenai penyebab pastinya.

Para ilmuwan memperkirakan peluang sebesar 80 persen bahwa El Niño akan terbentuk pada bulan September, dengan sebagian besar model mengarah pada peristiwa tingkat moderat. Beberapa simulasi mengindikasikan kemungkinan episode yang jauh lebih kuat. Pemanasan global diperkirakan akan mengintensifkan dampak dari kejadian semacam itu.

Dilaporkan oleh AI

Tim ilmuwan Belanda telah mempresentasikan simulasi yang menunjukkan bahwa bendungan masif di Selat Bering dapat membantu mencegah keruntuhan Sirkulasi Pembalikan Meridional Atlantik (AMOC). Usulan tersebut dipaparkan dalam konferensi geosains besar di Wina bulan ini.

Para peneliti telah membuat peta global pertama yang menunjukkan bagaimana bagian terdalam mantel Bumi mengalami deformasi, terutama di wilayah tempat lempeng tektonik subduksi purba berada. Dengan menggunakan lebih dari 16 juta seismogram, tim tersebut mengonfirmasi pola yang diprediksi oleh model geodinamika. Temuan ini, yang diterbitkan dalam The Seismic Record, menawarkan wawasan baru mengenai aliran mantel di dekat batas inti-mantel.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak