Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menyatakan rasa syukurnya atas penurunan kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi hanya 50 kasus pada Januari 2026. Meski jumlah satuan pelayanan meningkat, pengawasan intensif berhasil meminimalkan insiden. Dadan juga menekankan MBG sebagai investasi besar bagi sumber daya manusia Indonesia hingga 2045.
Pada Senin, 9 Februari 2026, di Balai Kota Jakarta, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyampaikan kabar baik terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia bersyukur karena kasus keracunan MBG pada Januari 2026 hanya mencapai 50 kejadian, jauh lebih rendah dibandingkan September atau Oktober 2026 sebelumnya.
"Alhamdulillah, kasus kejadiannya di selama Januari ini kan 50 kali kejadian ya. Itu jauh lebih kecil dibandingkan ketika Oktober atau September," ujar Dadan.
Menurutnya, pencapaian ini mengesankan mengingat jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengalami peningkatan tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah menargetkan nol kasus ke depannya melalui pengawasan yang lebih intensif dan pemberian peringatan kepada SPPG yang lalai.
"Kita lakukan lebih intensif ya, dan juga kita berikan peringatan-peringatan kepada SPPG yang masih melanggar, terutama terkait pelanggaran yang agak berat," tambahnya. Selain itu, SPPG diwajibkan melakukan sertifikasi dan akreditasi untuk menjaga kualitas.
Dalam kesempatan yang sama, saat penandatanganan nota kesepahaman antara Pemprov DKI Jakarta dan BGN, Dadan menyebut MBG sebagai investasi sumber daya manusia terbesar Indonesia menuju 2045. Ia merujuk pengalaman Jepang, di mana program gizi sejak 1926 meningkatkan tinggi badan rata-rata anak muda hingga 10 cm, dari 159,5 cm menjadi 170 cm pada 2024.
"Program makan bergizi gratis adalah investasi SDM terbesar Pemerintah Republik Indonesia untuk menyongsong SDM yang berkualitas di tahun 2045," katanya. Dadan menekankan bahwa gizi seimbang menghasilkan generasi sehat, cerdas, dan produktif, yang pada akhirnya mengurangi stunting di Indonesia.