Pohon ek yang diserang ulat menunda tunas daunnya selama tiga hari pada musim semi berikutnya, membuat serangga tersebut kelaparan dan mengurangi tingkat kerusakan. Para peneliti menggunakan data satelit untuk mengungkap mekanisme pertahanan ini di hutan-hutan Jerman. Temuan ini menunjukkan bahwa pohon beradaptasi secara aktif terhadap serangan herbivora.
Di Bavaria utara, Jerman, pohon ek yang mengalami serangan parah ulat ngengat gipsi pada tahun 2019 menunjukkan respons yang mengejutkan. Pada musim semi berikutnya, kuncup mereka terbuka tiga hari lebih lambat dibandingkan pohon yang tidak terdampak. Ketidaksesuaian waktu ini membuat ulat yang baru menetas tidak mendapatkan daun muda untuk dimakan, sehingga menyebabkan banyak ulat mati dan mengurangi kerusakan daun hingga setengahnya, yakni menjadi 55 persen dari tingkat tahun sebelumnya, menurut Soumen Mallick dari Universitas Würzburg dan timnya. Mereka menganalisis citra satelit radar Sentinel-1 yang mencakup 27.500 piksel—masing-masing kira-kira seukuran tajuk satu pohon—di area seluas 2400 kilometer persegi dari tahun 2017 hingga 2021, dengan fokus pada hutan ek pedunculate (Quercus robur) dan ek sessile (Quercus petraea). Pohon ek pedunculate juga dikenal sebagai pohon ek Inggris. Mallick mencatat bahwa penundaan ini lebih efektif daripada pertahanan pohon ek lainnya, seperti daun yang lebih keras atau senyawa aromatik yang menarik predator. Ia meyakini hal ini mencerminkan adaptasi evolusioner yang terlihat di berbagai populasi pohon, bukan sekadar stres individu akibat kehilangan daun. Para ahli memuji penemuan ini namun meminta bukti lebih lanjut. James Cahill dari Universitas Alberta menyebutnya 'sangat masuk akal' namun masih bersifat korelasional, sehingga mendorong pengumpulan data dari wabah tambahan untuk memastikan kausalitasnya. James Blande dari Universitas Finlandia Timur menekankan perlunya meneliti mekanisme yang mendasarinya. Studi ini juga menjelaskan mengapa hutan terkadang menghijau lebih lambat daripada yang diprediksi oleh model iklim, dengan menekankan faktor-faktor di luar kenaikan suhu.