Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan masih menunggu arahan dari Presiden Prabowo mengenai skema pembayaran utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh, yang dikabarkan akan dibayar sepenuhnya menggunakan dana APBN. Pernyataan ini disampaikan usai wacana tersebut muncul dari kalangan pemerintah. Saat ini, pembahasan masih dalam tahap negosiasi dengan Danantara.
Pada Rabu, 18 Februari 2026, di kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa ia belum menerima petunjuk khusus dari Presiden Prabowo terkait pembayaran utang proyek Whoosh. "Saya masih tunggu petunjuk (Presiden Prabowo)," ujarnya. Ia menekankan bahwa skema pembayaran belum pasti, meskipun ide tersebut berasal dari Rosan Roeslani, CEO Danantara.
"Belum ada petunjuk khusus dari Presiden. Adanya dari Rosan, dan itu kan belum jelas," tambah Purbaya. Ia menyatakan akan segera bertindak jika arahan dari presiden sudah jelas: "Kalau ada petunjuk Presiden, saya kerjain. Nah, sekarang belum. Paling tidak, ada tapi belum firm."
Wacana pembayaran utang Whoosh menggunakan APBN 100 persen pertama kali disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada Selasa, 10 Februari 2026, di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, usai konferensi pers tentang stimulus ekonomi. "Iya, utang Whoosh pakai APBN," kata Prasetyo. Namun, ia menjelaskan bahwa rencana ini masih dalam kajian teknis dan negosiasi, dipimpin oleh Rosan Roeslani.
"Belum final, laporan terakhir rapat di Danantara, jadi masih ada finalisasi. Sekarang proses negosiasi atau pembicaraan teknis langsung dipimpin oleh Pak Rosan sebagai CEO Danantara," ungkap Prasetyo. Pemerintah pusat terus membahas aspek teknis untuk menyelesaikan isu ini.