Seorang alumnus LPDP, Dwi Sasetyaningtyas, menjadi sorotan setelah video viralnya membanggakan paspor Inggris anaknya sambil meremehkan status WNI. LPDP menyayangkan pernyataannya dan akan menyelidiki kewajiban suaminya sebagai alumni. Polemik ini menyoroti dana publik yang mendanai program beasiswa LPDP.
Polemik bermula dari video Instagram akun @sasetyaningtyas yang menunjukkan pembukaan paket paspor Inggris untuk anaknya. "I know the world seems unfair tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan, kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu," ujar Dwi Sasetyaningtyas, atau DS, dalam video tersebut yang viral di media sosial.
LPDP merespons melalui pernyataan resmi pada Jumat, menyatakan tindakan DS tidak mencerminkan nilai integritas yang ditanamkan. DS, yang menyelesaikan studi S2 selama dua tahun dan lulus pada 31 Agustus 2017, telah memenuhi kewajiban pengabdian lima tahun di Indonesia. Meski tidak ada ikatan hukum lagi, LPDP akan berkomunikasi dengannya untuk mengimbau penggunaan media sosial yang lebih bijak.
Mengenai suami DS, AP, LPDP menyebut ia alumni yang diduga belum menyelesaikan kewajiban kontribusi pasca-studi. Lembaga itu akan memanggilnya untuk klarifikasi dan berpotensi menjatuhkan sanksi hingga pengembalian dana beasiswa jika terbukti.
DS kemudian meminta maaf, menyatakan kalimat itu lahir dari kekecewaan, kelelahan, dan frustrasi sebagai warga negara. Netizen kemudian menggali latar belakangnya, mengungkap ayah mertuanya, Syukur Iwantoro, mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian dan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Ia pernah diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus suap impor daging sapi 2013 dan impor bawang putih 2019, meski bukan tersangka.
Kontras dengan narasi perjuangan hidup sederhana yang dibagikan DS, polemik ini menyoroti Dana Abadi Pendidikan LPDP sebesar Rp 126,12 triliun dari APBN dan pajak. Saldo total dana abadi mencapai Rp 154,11 triliun per September 2025. LPDP mengalami defisit pada 2023 (pendapatan Rp 9,33 triliun, belanja Rp 9,85 triliun) dan 2024 (Rp 10,95 triliun vs Rp 11,86 triliun) karena lonjakan penerima beasiswa: 9.358 pada 2023 dan 8.592 pada 2024. Untuk 2025 dan 2026, kuota dikurangi menjadi 4.000 orang masing-masing, kata Plt Utama LPDP Sudarto.