Yusril sebut judul film Pesta Babi provokatif

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menilai judul film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita bersifat provokatif. Ia menegaskan pemerintah tidak melarang pemutaran film tersebut.

Yusril menjelaskan bahwa film tersebut berisi kritik terhadap Proyek Strategis Nasional di Papua Selatan. Kritik itu menyoroti dampak pada kelestarian alam, hak ulayat masyarakat Papua, dan lingkungan hidup. Ia menganggap kritik semacam itu wajar meski judulnya kontroversial.

Pemerintah tidak mengeluarkan arahan pelarangan nobar film di kampus. Beberapa kampus di Lombok menghentikan pemutaran karena prosedur administratif saja. Sementara itu, kegiatan di kampus Bandung dan Sukabumi berjalan tanpa hambatan.

Yusril mengimbau masyarakat agar tidak terpancing judul yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian. Ia mendorong penonton untuk menggelar diskusi dan debat setelah menonton. Pemerintah pun dapat mengambil pelajaran dari kritik tersebut untuk memperbaiki langkah di lapangan.

Artikel Terkait

Finance Minister Purbaya inviting global investors at a conference in Indonesia.
Gambar dihasilkan oleh AI

Purbaya invites global investors and follows mining royalty delay

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

Finance Minister Purbaya Yudhi Sadewa invited global investors to Indonesia while introducing the P2SP task force mechanism to resolve business obstacles.

Minister of Human Rights Natalius Pigai stressed that bans on film screenings or group viewings cannot be imposed unilaterally without legal basis and a court ruling.

Dilaporkan oleh AI

Hundreds of UGM and UII students staged protests on Monday (15/6/2026) rejecting government officials' presence and highlighting economic conditions and state policies.

Presidential Chief of Staff Dudung Abdurachman visited victim YTR at RSHS Bandung and conveyed President Prabowo Subianto’s attention to the captivity and torture case she endured.

Dilaporkan oleh AI

President Prabowo Subianto reaffirmed his commitment to eradicating corruption while closing the Nahdlatul Ulama event in Bangkalan, East Java.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak