Laut Arab Kuno mempertahankan tingkat oksigen lebih tinggi selama pemanasan

Sebuah studi mengungkapkan bahwa Laut Arab memiliki lebih banyak oksigen terlarut 16 juta tahun lalu daripada saat ini, meskipun suhu global lebih hangat selama Optimum Iklim Miosen. Hal ini menantang asumsi sederhana bahwa pemanasan menyebabkan deoksigenasi samudra segera. Faktor regional seperti monsun dan arus menunda kehilangan oksigen parah di wilayah tersebut.

Para ilmuwan dari University of Southampton di Inggris dan Rutgers University di AS memeriksa plankton fosil, yang dikenal sebagai foraminifera, dari inti sedimen di Laut Arab. Sampel-sampel ini, yang dikumpulkan melalui Ocean Drilling Program, melestarikan sinyal kimia yang menunjukkan tingkat oksigen masa lalu di air laut. Penelitian ini berfokus pada Optimum Iklim Miosen, periode sekitar 17 hingga 14 juta tahun yang lalu ketika iklim Bumi mirip dengan proyeksi untuk setelah 2100 dalam skenario emisi tinggi. Selama waktu itu, konsentrasi oksigen di Laut Arab melebihi tingkat saat ini, meskipun planet memanas secara intens. Zona minimum oksigen ada di wilayah tersebut sejak sekitar 19 juta tahun lalu hingga sekitar 12 juta tahun lalu, dengan tingkat di bawah 100 mikromol per kilogram air. Namun, kondisi tetap hipoksik—mendukung rentang kehidupan laut yang lebih luas—daripada keadaan suboksik yang terlihat sekarang, yang membatasi keanekaragaman hayati. Penipisan oksigen parah, termasuk pelepasan nitrogen ke atmosfer, hanya terjadi setelah 12 juta tahun lalu, mengikuti periode pendinginan iklim. Garis waktu ini berbeda dari timur tropis Pasifik, di mana oksigenasi lebih tinggi selama OIM tetapi menurun lebih awal. «Oksigen yang larut di lautan kita sangat penting untuk mempertahankan kehidupan laut, mendorong keanekaragaman hayati yang lebih besar dan ekosistem yang lebih kuat. Namun, selama 50 tahun terakhir, dua persen oksigen di lautan dunia hilang setiap dekade seiring kenaikan suhu global,» kata penulis utama Dr. Alexandra Auderset, sekarang di University of Southampton dan sebelumnya di Max Planck Institute of Chemistry di Mainz. Pengaruh regional, seperti angin monsun yang kuat, arus laut yang bergeser, dan pertukaran air dengan lautan tetangga, memainkan peran kunci dalam mempertahankan oksigen. Penulis utama Dr. Anya Hess, sebelumnya dari Rutgers University dan Woods Hole Oceanographic Institution, mencatat: «Laut Arab juga lebih teroksigenasi selama OIM, tapi tidak sebanyak Pasifik, dengan oksigenasi sedang dan penurunan akhir yang tertinggal sekitar 2 juta tahun di belakang Pasifik.» Temuan, yang diterbitkan di Communications Earth & Environment, menyoroti bahwa dinamika oksigen laut bergantung pada lebih dari sekadar suhu. Dr. Auderset menambahkan: «Hasil kami menunjukkan bahwa kehilangan oksigen laut, yang sudah berlangsung saat ini, sangat dibentuk oleh oseanografi lokal. Model global yang hanya fokus pada pemanasan iklim berisiko tidak menangkap faktor regional yang dapat memperkuat atau melawan tren umum tersebut.» Kompleksitas ini menyiratkan bahwa kondisi laut masa depan bisa bervariasi secara regional, berpotensi memungkinkan beberapa area untuk memulihkan oksigen dalam skala waktu panjang, meskipun dampak pada ekosistem laut tetap tidak jelas.

Artikel Terkait

Samudra Bumi mencapai tingkat panas tertinggi yang tercatat pada 2025, menyerap 23 zetta joule energi berlebih. Tonggak ini, yang dikonfirmasi oleh tim ilmuwan internasional, menekankan dampak percepatan perubahan iklim. Tren pemanasan, yang terbangun sejak 1990-an, memicu badai lebih kuat dan kenaikan permukaan laut di seluruh dunia.

Dilaporkan oleh AI

Para peneliti kembali ke Zona Clarion-Clipperton di Samudra Pasifik untuk menyelidiki bagaimana nodul logam menghasilkan oksigen tanpa sinar matahari, fenomena yang disebut 'oksigen gelap' yang bisa mendukung kehidupan laut dalam. Penemuan ini memicu perdebatan tentang risiko lingkungan penambangan laut dalam untuk logam kritis. Tim bertujuan mengonfirmasi proses tersebut dan menangani kritik dari kepentingan pertambangan.

Peneliti telah mengidentifikasi endapan luas puing lava di bawah Samudera Atlantik Selatan yang menjebak jumlah signifikan karbon dioksida selama puluhan juta tahun. Formasi breksi ini, terbentuk dari gunung bawah air yang terkikis, menyimpan jauh lebih banyak CO2 daripada sampel kerak samudra tipikal. Penemuan ini menyoroti mekanisme yang sebelumnya tidak dikenali dalam siklus karbon jangka panjang Bumi.

Dilaporkan oleh AI

Para peneliti menemukan bahwa mikroba heterotrof memainkan peran lebih besar dalam memfiksasi karbon di lautan dalam daripada yang diperkirakan sebelumnya, menantang asumsi lama. Dipimpin oleh Alyson Santoro di UC Santa Barbara, studi tersebut mengungkapkan bahwa arkea pengoksidasi amonia berkontribusi lebih sedikit dari yang diharapkan terhadap proses ini. Temuan, yang diterbitkan di Nature Geoscience, membantu menjelaskan ketidaksesuaian dalam siklus karbon dan nitrogen di perairan lautan gelap.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak