Chinese researchers develop super antibody for deadly SFTS

Researchers in China have developed a potent antibody that could combat severe fever with thrombocytopenia syndrome (SFTS), a tick-borne disease with a mortality rate of up to 30 percent. The discovery offers new hope for tackling this growing threat in East Asia.

In the world of tick-borne illnesses, Lyme disease grabs the headlines. For example, Greg Yang, one of the 12 original co-founders of Elon Musk’s artificial intelligence startup xAI, said in late January that he was stepping back from the company after being diagnosed with the disease, noting that accidentally eating the wrong food would leave him “extremely tired,” requiring days to recover.

But there is a more dangerous condition transmitted by ticks that a team at a Chinese university might now have a way to treat. The syndrome, severe fever with thrombocytopenia syndrome (SFTS), caused by the Dabie bandavirus and spread by the Haemaphysalis longicornis tick, has a mortality rate of up to 30 percent. It was first identified in 2009 during investigations into cases of a then-unknown illness involving a sudden rise in body temperature.

The researchers said the discovery could “open up new avenues” for tackling the growing threat posed by ticks. This ‘super antibody’ represents a potential breakthrough in addressing the parasitic danger, particularly in East Asia, including China, Japan, and South Korea.

The development highlights the increasing global attention to tick-borne diseases, from Europe and North America to Australia and New Zealand. The team is based in Hangzhou, underscoring local innovation's role in public health challenges.

Artikel Terkait

Illustration of Australian scientists developing antibodies targeting bacteria-specific sugar to treat drug-resistant infections in mice.
Gambar dihasilkan oleh AI

Tim Australia kembangkan antibodi yang menargetkan gula khusus bakteri, membersihkan infeksi tahan obat pada tikus

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI Fakta terverifikasi

Peneliti Australia melaporkan bahwa mereka telah merancang antibodi monoklonal yang mengenali asam pseudaminic—gula yang dibuat oleh bakteri tetapi tidak oleh manusia—dan menggunakannya untuk membantu menghilangkan infeksi Acinetobacter baumannii multiresisten obat pada tikus, langkah menuju pengobatan imunoterapi pasif potensial untuk infeksi rumah sakit yang sulit diobati.

Peneliti dari Australia melaporkan hasil positif dari uji klinis Fase II obat berbasis karbohidrat baru untuk mengobati sepsis. Uji coba yang melibatkan 180 pasien di China menunjukkan kemampuan obat tersebut mengurangi keparahan kondisi tersebut. Perkembangan ini menawarkan harapan untuk terapi target pertama terhadap penyebab utama kematian global.

Dilaporkan oleh AI

Para ilmuwan telah menuai antibodi dari darah dokter anak untuk mengembangkan pengobatan pencegahan baru untuk virus sinkitial pernapasan (RSV) dan metapneumovirus manusia. Antibodi ini mengungguli terapi yang ada hingga 25 kali dan menargetkan rentang strain yang lebih luas. Penemuan ini berasal dari kekebalan alami yang dibangun oleh dokter anak melalui tahun-tahun paparan terhadap virus pernapasan.

Para ilmuwan telah menciptakan nanopartikel inovatif yang dirancang untuk menghancurkan protein berbahaya yang terkait dengan demensia dan kanker. Partikel ini dapat mengakses jaringan sulit seperti otak dan secara presisi menghilangkan protein bermasalah tanpa efek samping luas. Teknologi ini menunjukkan janji awal untuk pengobatan presisi.

Dilaporkan oleh AI

Para ilmuwan di Northwestern Medicine telah mengembangkan antibodi yang melawan penyamaran berbasis gula kanker pankreas, memungkinkan sistem kekebalan tubuh menyerang tumor lebih efektif. Dalam studi pada tikus, terapi tersebut memperlambat pertumbuhan tumor dengan memulihkan aktivitas imun. Tim sedang menyiapkan antibodi untuk uji coba manusia.

Peneliti di Oregon Health & Science University telah menentukan situs spesifik pada reseptor NMDA yang menjadi sasaran antibodi berbahaya dalam gangguan otak autoimun langka yang dikenal sebagai «Brain on Fire». Penemuan ini, yang diterbitkan di Science Advances, dapat mengarah pada pengobatan yang lebih tepat dan deteksi lebih dini. Kondisi ini memengaruhi sekitar 1 dari 1 juta orang setiap tahun, terutama orang dewasa muda, menyebabkan gejala parah seperti kejang dan kehilangan memori.

Dilaporkan oleh AI

Peneliti di Stanford Medicine telah menciptakan vaksin semprot hidung eksperimental yang melindungi tikus dari berbagai ancaman pernapasan, termasuk COVID-19, flu, pneumonia bakteri, dan alergen. Vaksin ini mengaktifkan sistem kekebalan bawaan paru-paru selama berbulan-bulan, menawarkan pertahanan luas tanpa menargetkan patogen spesifik. Diterbitkan di Science pada 19 Februari, studi ini menunjukkan potensi uji coba pada manusia segera.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak