Kemacetan menjadi kekhawatiran bagi pemilik mobil listrik di kota-kota besar Indonesia. Berbeda dengan mobil konvensional, mobil listrik tidak boros energi saat berhenti total, tetapi konsumsi daya tetap ada dari fitur pendukung. Pengurangan baterai saat macet umumnya 1 hingga 5 persen per jam.
Kemacetan lalu lintas sering menjadi mimpi buruk bagi pengendara di Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Bagi pemilik mobil listrik yang semakin banyak, pertanyaan umum adalah seberapa besar daya baterai yang hilang saat terjebak macet lama.
Tidak seperti mobil berbahan bakar bensin atau diesel yang terus membakar bahan bakar saat mesin menyala, mobil listrik hanya mengonsumsi energi sesuai kebutuhan. Saat kendaraan berhenti total, konsumsi utama datang dari sistem seperti AC, hiburan, lampu, dan komputer onboard. Dalam situasi macet stop-and-go, pengurangan daya baterai biasanya 1 hingga 5 persen per jam, menurut informasi dari Slashgear.
Faktor utama adalah penggunaan AC; jika disetel dingin dengan kipas kencang, konsumsi bisa mencapai 5 persen per jam, khususnya pada mobil dengan baterai kecil. Elemen lain seperti sistem infotainment, pengisian gadget, dan lampu luar juga berkontribusi, meski relatif kecil. Secara keseluruhan, ini jauh lebih efisien daripada mobil konvensional.
Teknologi regenerative braking membantu mengembalikan energi saat melepas akselerator atau mengerem, meskipun efektivitasnya terbatas di kecepatan rendah. Dengan perencanaan pengisian daya yang baik, kemacetan tidak mengancam jarak tempuh harian mobil listrik secara serius.