Komet interstelar 3I/ATLAS mengungkap kandungan metanol tinggi

Berdasarkan pengamatan sebelumnya tentang produksi uap air, para ilmuwan menemukan bahwa komet interstelar 3I/ATLAS mengandung metanol dalam jumlah yang sangat tinggi di ekornya. Temuan ini berasal dari studi baru yang menganalisis data yang dikumpulkan saat komet melintas di tata surya. Objek interstelar ketiga yang dikonfirmasi kini sedang meninggalkan tata surya kita menuju ruang antarbintang.

Komet interstelar 3I/ATLAS, pengunjung ketiga yang diketahui dari luar tata surya kita, terus memberikan kejutan tentang komposisinya. Pengamatan sebelumnya oleh Observatorium Swift milik NASA mendeteksi uap air ketika komet berada hampir tiga kali lebih jauh dari Matahari daripada Bumi. Kini, analisis data ekornya selama lintasannya di tata surya mengungkap proporsi metanol yang anomali—alkohol sederhana—dalam studi yang saat ini sedang menunggu tinjauan sejawat peer review. Metanol muncul dalam jumlah yang jauh lebih tinggi daripada yang diharapkan untuk pengunjung kosmik ini. Para peneliti sedang memeriksa pengamatan dari pendekatan terdekatnya, bahkan saat 3I/ATLAS berangkat ke ruang antarbintang. Penemuan ini, mengikuti aktivitas air yang tidak terduga, menyoroti keragaman komposisi kimia objek dari sistem bintang lain, yang berbeda dari objek asli tata surya dan pengunjung interstelar sebelumnya seperti 'Oumuamua yang kering dan Borisov yang kaya karbon monoksida. Temuan ini menggarisbawahi nilai misi berkelanjutan untuk mengamati fenomena sementara seperti ini. Meskipun implikasi tepat untuk pembentukan komet di berbagai sistem bintang masih dalam penyelidikan, kehadiran senyawa alkohol yang melimpah memperkaya katalog material interstelar kita.

Artikel Terkait

ETH Zurich scientists with single-atom indium catalyst converting CO2 to methanol in a high-tech lab reactor, sustainable energy theme.
Gambar dihasilkan oleh AI

Ilmuwan mengembangkan katalis atom tunggal untuk konversi CO2 menjadi metanol

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

Para peneliti di ETH Zurich telah merekayasa katalis menggunakan atom indium yang terisolasi pada hafnium oksida untuk mengubah CO2 dan hidrogen menjadi metanol secara lebih efisien daripada metode sebelumnya. Desain atom tunggal ini memaksimalkan penggunaan logam dan memungkinkan studi yang lebih jelas tentang mekanisme reaksi. Terobosan ini dapat mendukung produksi bahan kimia yang berkelanjutan jika didukung oleh energi terbarukan.

Sebuah komet dari luar tata surya kita menunjukkan kadar air kaya deuterium yang jauh lebih tinggi daripada objek lokal mana pun yang pernah diamati. Temuan ini menunjukkan bahwa komet tersebut terbentuk dalam kondisi yang jauh lebih dingin daripada kondisi di lingkungan planet kita sendiri. Para peneliti menggunakan pengamatan dari dua teleskop besar untuk melakukan pengukuran tersebut.

Dilaporkan oleh AI

Para astronom yang menggunakan Teleskop Antariksa James Webb telah mendeteksi adanya air di komet antarbintang 3I/ATLAS dengan kadar deuterium 30 sampai 40 kali lebih tinggi daripada di lautan Bumi. Rasio hidrogen berat ini melebihi rasio hidrogen berat di komet tata surya manapun yang diketahui setidaknya 10 kali lipat. Temuan ini menunjukkan bahwa komet tersebut berasal dari area yang dingin dan jauh di sekitar bintang asing purba.

Astronom menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb untuk membuat peta tiga dimensi pertama atmosfer atas Uranus, mengungkap detail tentang suhu, partikel bermuatan, dan aurora. Pengamatan menyoroti pengaruh medan magnetik miring planet tersebut dan mengonfirmasi pendinginan berkelanjutan di ionosfernya. Data ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana planet raksasa es mengelola energi.

Dilaporkan oleh AI

Para ilmuwan menemukan bahwa erupsi gunung berapi bawah laut di Pasifik Selatan pada tahun 2022 memicu proses kimia yang menghilangkan sejumlah besar metana dari atmosfer. Penemuan yang dirinci dalam studi baru ini menunjukkan bagaimana abu vulkanik dan air laut bergabung untuk menguraikan gas rumah kaca yang kuat tersebut.

Para astronot di dalam pesawat ruang angkasa Orion milik NASA selama misi Artemis II mengamati sebanyak enam kilatan di sisi jauh bulan. Kilatan tersebut berasal dari meteorit kecil yang menghantam permukaan bulan. Dampak tersebut menghasilkan semburan cahaya singkat yang terlihat dari jarak ribuan kilometer.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak