Observatorium Vera C. Rubin di Chili telah mendeteksi asteroid selebar 710 meter yang berotasi setiap 1,9 menit sekali, lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya untuk ukurannya. Dinamakan 2025 MN45, asteroid ini merupakan asteroid yang berputar paling cepat dengan lebar lebih dari 500 meter yang pernah diamati. Para astronom mengatakan bahwa kecepatannya menunjukkan bahwa asteroid ini merupakan batu padat atau bahkan logam, bukan tumpukan puing-puing.
Para astronom yang menggunakan Observatorium Vera C. Rubin di Chili mengidentifikasi asteroid 2025 MN45 selama sembilan malam pertama pengamatan pada akhir April dan awal Mei 2025. Dmitrii Vavilov dari University of Washington di Seattle dan rekan-rekannya menganalisis data dan menemukan 76 asteroid dengan periode rotasi yang dapat diandalkan. Dari jumlah tersebut, 19 di antaranya merupakan rotator super cepat, berputar setiap 2,2 jam sekali atau lebih cepat-batas yang seharusnya untuk asteroid tumpukan puing-puing yang disatukan oleh gravitasi. Yang tercepat di antara mereka berputar setiap 13 menit atau lebih. Para astronom juga menemukan tiga rotator ultra-cepat dengan periode 3,8 menit, 1,92 menit, dan 1,88 menit. Yang paling menonjol adalah 2025 MN45, berukuran sekitar 710 meter dan berputar setiap 1,92 menit-lebih cepat dari asteroid yang diketahui berukuran lebih dari 500 meter. Vavilov mempresentasikan temuan ini di Konferensi Sains Bulan dan Planet di Texas pada 17 Maret lalu. Awalnya, tim tidak mencari rotasi di bawah 5 menit. "Kami pikir itu gila bahwa mereka bisa berotasi lebih cepat lagi," kata Vavilov. Ia menambahkan, "2,2 jam seharusnya menjadi batas waktu untuk asteroid ini, tapi ternyata asteroid ini berotasi dalam waktu kurang dari 2 menit." Kecepatannya yang ekstrim mengesampingkan struktur tumpukan puing-puing. "Bahkan tanah liat pun tidak akan cukup untuk menyatukan asteroid ini, jadi kemungkinan asteroid ini merupakan batu besar atau bahkan logam padat," jelas Vavilov. Survei 10 tahun observatorium di langit selatan diharapkan bisa mengungkap lebih banyak asteroid semacam itu, dan menyoroti keragamannya. Penelitian ini telah dipublikasikan di The Astrophysical Journal Letters (DOI: 10.3847/2041-8213/ae2a30).