Alat AI RAVEN konfirmasi lebih dari 100 eksoplanet dalam data TESS NASA

Para astronom di University of Warwick telah menggunakan sistem AI baru bernama RAVEN untuk mengonfirmasi lebih dari 100 eksoplanet dari data Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) milik NASA. Penemuan tersebut mencakup 31 dunia yang baru diidentifikasi, banyak di antaranya mengorbit dekat dengan bintang induknya, beserta ribuan kandidat lainnya. Temuan ini mengungkapkan jenis planet langka dan pengukuran akurat mengenai tingkat kejadian planet di sekitar bintang mirip Matahari.

Para peneliti menerapkan alur kerja RAVEN pada observasi lebih dari 2,2 juta bintang dari empat tahun pertama TESS, dengan fokus pada planet yang memiliki orbit kurang dari 16 hari. Sistem ini memvalidasi 118 planet baru dan lebih dari 2.000 kandidat berkualitas tinggi, di mana hampir 1.000 di antaranya sebelumnya tidak diketahui. Di antara dunia yang telah dikonfirmasi tersebut terdapat planet dengan periode ultra-singkat yang mengorbit dalam waktu kurang dari 24 jam serta planet-planet di 'gurun Neptunus', sebuah wilayah di mana planet semacam itu jarang ditemukan menurut teori. Studi tersebut juga mengidentifikasi sistem multi-planet yang padat dengan pasangan yang sebelumnya tidak terdeteksi di sekitar bintang yang sama. Hasil penelitian ini dimuat dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society (MNRAS), volume 548 edisi 3 dan volume 546 edisi 2, keduanya diterbitkan pada tahun 2026. RAVEN meningkatkan deteksi dengan melatih model pembelajaran mesin pada data simulasi untuk membedakan transit planet yang sebenarnya dari sinyal palsu seperti bintang biner gerhana. Sistem ini menangani seluruh proses mulai dari deteksi sinyal hingga validasi statistik, mengurangi bias dan memungkinkan studi populasi yang dapat diandalkan. Dr. Marina Lafarga Magro, peneliti pascadoktoral di Warwick dan penulis utama makalah penemuan tersebut, mengatakan: 'Dengan menggunakan alur kerja RAVEN yang baru kami kembangkan, kami dapat memvalidasi 118 planet baru dan lebih dari 2.000 kandidat planet berkualitas tinggi, hampir 1.000 di antaranya benar-benar baru.' Dr. Andreas Hadjigeorghiou, yang memimpin pengembangan RAVEN, menjelaskan: 'Tantangannya terletak pada mengidentifikasi apakah peredupan tersebut memang disebabkan oleh planet yang mengorbit bintang atau oleh hal lain, seperti bintang biner gerhana, yang merupakan pertanyaan yang coba dijawab oleh RAVEN.' Analisis tersebut menunjukkan bahwa 9-10% bintang mirip Matahari menampung planet jarak dekat, yang selaras dengan misi Kepler NASA namun dengan ketidakpastian yang berkurang hingga sepuluh kali lipat. Planet di gurun Neptunus muncul di sekitar hanya 0,08% dari bintang-bintang tersebut. Dr. Kaiming Cui, penulis utama studi demografi, mencatat: 'Untuk pertama kalinya, kami dapat memberikan angka pasti mengenai seberapa kosong 'gurun' ini.' Dr. David Armstrong, rekan penulis senior, menambahkan bahwa RAVEN menghasilkan kumpulan data yang cukup andal untuk memetakan prevalensi planet. Tim tersebut telah merilis katalog interaktif untuk penelitian lebih lanjut, yang membantu misi masa depan seperti PLATO milik ESA.

Artikel Terkait

Astronomers have discovered more than 10,000 previously unidentified candidate exoplanets by re-analyzing data from NASA's Transiting Exoplanet Survey Satellite. The findings, led by Joshua Roth at Princeton University, reveal planets orbiting fainter stars up to 6800 light-years away. While many candidates may prove real, experts caution about a high false positive rate.

Dilaporkan oleh AI

Astronomers have discovered that aging stars expanding into red giants are engulfing close-orbiting giant planets. A study of nearly half a million stars shows fewer such planets around more evolved red giants, suggesting many have been destroyed. The findings come from data collected by NASA's Transiting Exoplanet Survey Satellite.

A team of astronomers in Japan has discovered evidence of a faint atmosphere surrounding the small trans-Neptunian object 2002 XV93. Previously, only Pluto was known to retain an atmosphere among bodies beyond Neptune due to its stronger gravity. The finding, made via a rare stellar occultation on January 10, 2024 and published in Nature Astronomy, indicates a short-lived atmosphere requiring continuous replenishment.

Dilaporkan oleh AI

Scientists from the University of Basel, ETH Zurich, and the European Space Agency have tested a quadrupedal robot equipped with a robotic arm to explore planetary surfaces more efficiently. The robot navigated rocky terrain autonomously, identifying targets and collecting data faster than traditional human-guided methods. The findings, published this week, suggest it could accelerate resource prospecting and searches for signs of life on the moon and Mars.

Astronomers are using next-generation telescopes to explore the Kuiper Belt, a region beyond Neptune's orbit. This work aims to uncover hidden planets, strange structures, and insights into the solar system's early chaos. The Kuiper Belt consists of ancient relics and dynamical enigmas.

Dilaporkan oleh AI

NASA's Juno spacecraft has revealed that lightning in Jupiter's storms is at least 100 times more powerful than on Earth, based on data from 2021 and 2022. The findings, published on March 20 in AGU Advances, come as the mission's future hangs in balance due to budget constraints. NASA officials are weighing whether to extend operations amid funding shortfalls.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak