Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud membela pengadaan kursi pijat senilai Rp 125 juta di tengah kritik masyarakat. Ia menyebut kursi itu diperlukan karena sering mengemudi sendiri untuk perjalanan jauh. Anggaran tersebut bagian dari rencana resmi provinsi 2024/2025.
Rudy Mas'ud menjelaskan bahwa ia sering mengemudikan mobil dinas sendiri dengan jarak tempuh ribuan kilometer. Perjalanannya dimulai sebelum matahari terbit dan berakhir setelah matahari terbenam. "Kursi pijat ada, kursi pijat memang diberikan di situ. Kasian Gubernurnya jalan bawa mobil sendiri dengan perjalanannya ribuan kilo. Kami kalau jalan sebenarnya nggak pernah ke publish, matahari belum terbit kami jalan. Matahari sudah tenggelam, kami belum sampai. Bawa sendiri lagi mobilnya," katanya dalam saluran YouTube pada 26 April 2026.
Pegawainya merasa kasihan melihat kondisinya yang lelah dan kadang sendirian di rumah. Ia menegaskan kursi pijat bukan tambahan mendadak, melainkan masuk anggaran resmi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur 2024/2025. "Itu adalah anggaran tahun 2024-2025," ujarnya.
Kritik ini muncul setelah polemik renovasi rumah dinas Rp 25 miliar dan mobil dinas Rp 8,5 miliar. Pada 21 April, demonstrasi besar terjadi di Kalimantan Timur soal penggelembungan belanja daerah. Rudy Mas'ud mengapresiasi aspirasi publik tanpa meminta maaf, sambil berharap masyarakat mendoakannya bukan membully. "Nah ini supaya masayarakatnya ini masa pemimpinnya harusnya didoain bukan dibully," katanya.