Sebuah studi makanan hewan peliharaan komersial di Jepang menemukan tingkat tinggi bahan kimia abadi, yang dikenal sebagai PFAS, terutama pada produk berbasis ikan untuk kucing dan anjing. Tingkat ini sering melebihi ambang batas keamanan manusia yang ditetapkan oleh regulator Eropa. Peneliti mendesak pemantauan yang lebih baik untuk menilai risiko bagi hewan peliharaan.
Peneliti di Universitas Ehime di Jepang menganalisis 100 makanan hewan peliharaan komersial yang dijual antara 2018 dan 2020, termasuk 48 varietas anjing dan 52 pilihan kucing, baik basah maupun kering. Mereka menguji 34 jenis perfluoroalkyl dan polyfluoroalkyl substances (PFAS), bahan kimia buatan persisten yang terkait dengan masalah kesehatan pada manusia seperti kerusakan hati dan kanker tertentu. Pada hewan peliharaan, studi terbatas mengaitkan beberapa PFAS dengan penyakit hati, tiroid, ginjal, dan pernapasan pada kucing. Tim menghitung asupan PFAS harian berdasarkan ukuran makanan tipikal dan berat badan hewan. Beberapa produk menunjukkan konsentrasi sedang hingga tinggi, melebihi batas harian per kilogram berat badan yang ditetapkan oleh European Food Safety Authority (EFSA) untuk manusia. Untuk makanan anjing, pilihan berbasis biji-bijian Jepang memiliki beberapa tingkat tertinggi, mungkin dari aliran limbah pertanian atau produk sampingan ikan. Makanan anjing berbasis daging umumnya mengandung PFAS rendah atau tidak ada, termasuk satu merek Jepang dan dua merek Australia. Makanan kucing, terutama yang berbasis ikan dari Asia, AS, dan Eropa, menunjukkan PFAS tertinggi, dengan produk ikan basah buatan Thailand yang menonjol. Kei Nomiyama, peneliti utama, menjelaskan bahwa lautan berfungsi sebagai penampung bahan kimia sintetis, memungkinkan PFAS terkonsentrasi dalam rantai makanan akuatik. Ia mencatat variasi regional kemungkinan berasal dari sejarah produksi dan perbedaan sumber, menyerukan pemantauan global yang harmonis. «Temuan kami tidak menunjukkan darurat kesehatan segera, tetapi menyoroti celah pengetahuan,» kata Nomiyama. Ia menyarankan pemilik hewan peliharaan untuk mendiversifikasi sumber protein guna mengurangi paparan. EFSA menyatakan batas manusia tidak berlaku langsung pada hewan, meskipun Nomiyama menekankan perlunya penilaian risiko khusus hewan peliharaan, melihat hewan pendamping sebagai indikator polusi lingkungan. Håkon Austad Langberg dari Akvaplan-niva di Norwegia menggambarkan hasil sebagai yang diharapkan, mengingat keberadaan global PFAS dan bioakumulasi. Ia menyoroti paparan kumulatif dari berbagai sumber sebagai tantangan yang lebih luas. Studi ini muncul di Environmental Pollution (DOI: 10.1016/j.envpol.2026.127779).