Temuan lukisan gua tertua di sulawesi ungkap adegan kehidupan purba

Peneliti menemukan lukisan gua berusia minimal 67.800 tahun di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang menggambarkan adegan naik kuda, perahu, dan perburuan kelompok. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature dan menunjukkan narasi budaya maritim serta interaksi manusia dengan alam sejak zaman purba. Konferensi pers di Jakarta pada 22 Januari 2026 membahas metode penanggalan canggih yang digunakan.

Dunia arkeologi mencatat tonggak penting dari Indonesia dengan penemuan gambar cadas tertua di dunia, berupa cap tangan manusia berusia setidaknya 67.800 tahun, di situs Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature dengan judul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi”. Peneliti dari Pusat Riset Arkeometri BRIN, Dr Adhi Agus Octavian, menjelaskan bahwa seni cadas di situs ini tidak hanya stensil cap tangan, melainkan juga adegan hubungan manusia dengan hewan, alam, dan aktivitas sosial.

Dalam konferensi pers di Gedung BJ Habibie, Jakarta, pada Kamis (22/1/2026), Adhi menyatakan, “Di Metanduno ini tidak hanya ada tiga cap tangan. Banyak yang sudah tertutup koraloid. Yang menarik, di sini muncul narasi manusia modern dengan hewan dan lingkungannya.” Tim telah membuat model 3D gua untuk melihat komposisi panel gambar secara utuh, yang didominasi oleh gambar-gambar penutur Austronesia.

Panel di Metanduno menunjukkan fase budaya lebih muda, termasuk pelayaran, domestikasi, dan perburuan terorganisasi. Adhi menunjukkan figur hewan besar menyerupai kuda atau sapi, gambar perahu sebagai bukti tradisi maritim, serta adegan perburuan. “Salah satu yang paling besar terlihat seperti gambar kuda atau sapi besar. Lalu ada gambar perahu, ini bukti-bukti maritim. Ada juga domestikasi dan adegan perburuan,” katanya.

Figur manusia mendominasi panel di bagian kanan langit-langit gua, dengan beberapa gambar tertutup lapisan mineral koraloid dan warna coklat. “Ada gambar seperti ayam, ada orang naik kuda mungkin sambil memegang parang. Ada juga figur warna hitam di sana,” tambah Adhi. Menurutnya, seni prasejarah ini merupakan arsip sosial yang merekam interaksi manusia dengan alam, hewan, teknologi, dan sesama.

Prof Maxime Aubert dari Griffith University dan Southern Cross University menjelaskan metode penanggalan menggunakan laser-ablation uranium-series (LA–U-series) pada lapisan kalsit. Proses ini melibatkan endapan air hujan yang mengandung uranium yang meluruh menjadi thorium. “Jika lapisan itu berada di atas lukisan, maka itu memberi kita usia minimum,” kata Maxime. Sampel kecil sekitar lima milimeter diambil tanpa merusak lukisan, menunjukkan lapisan berusia 71,6 ± 3,8 ribu tahun, sehingga usia minimum cap tangan adalah 67.800 tahun.

Temuan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai lokasi seni cadas tertua dunia dan ruang narasi peradaban manusia di Asia–Pasifik. “Di sini kita tidak hanya melihat cap tangan, tetapi cerita tentang pelayaran, perburuan, domestikasi, dan kehidupan manusia modern di Nusantara,” ujar Adhi.

Artikel Terkait

Archaeologists uncover a 200-year-lost Bronze Age rock carving in Tanum, Sweden's world heritage site, guided by an old sketch.
Gambar dihasilkan oleh AI

Rock carving rediscovered in Tanum after 200 years

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

A rock carving hidden for 200 years has been rediscovered in Tanum, the largest find in the world heritage site in over 30 years. The discovery was made using an old sketch by Carl Georg Brunius. The carving will however be buried again for protection.

Culture Minister Fadli Zon inaugurated the Cipari Prehistoric Park Museum in Kuningan Regency, West Java, on Saturday (April 4, 2026). The museum holds evidence of ancient Nusantara civilization from the megalithic and neolithic eras, including sorkafagus proving advanced burial technology. Revitalization since December 2025 aims to make it an educational hub for young people.

Dilaporkan oleh AI

A high-altitude cave in the eastern Pyrenees has yielded signs of repeated prehistoric occupation spanning thousands of years, including possible early copper mining and the remains of a child.

Researchers have found fossil teeth in Ethiopia indicating that early Homo and an unknown Australopithecus species shared the landscape between 2.6 and 2.8 million years ago. The discovery adds to evidence that human evolution involved multiple overlapping lineages rather than a single straight path.

Dilaporkan oleh AI

Researchers have analyzed mitochondrial DNA from eight Neanderthal teeth found in Stajnia Cave in Poland, reconstructing the genetic profile of a small group that lived there around 100,000 years ago. The study, published in Current Biology, marks the first such multi-individual genetic picture from a single site north of the Carpathians. The findings show genetic links to Neanderthals across Europe and the Caucasus.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak