Astronom menemukan Awan Magellan Kecil bertabrakan dengan tetangga yang lebih besar

Tim dari University of Arizona telah menentukan bahwa gerakan bintang yang kacau di Awan Magellan Kecil diakibatkan oleh tabrakan dengan Awan Magellan Besar ratusan juta tahun yang lalu. Tabrakan ini mengacaukan struktur galaksi dan menciptakan ilusi gas yang berputar. Temuan yang dipublikasikan di The Astrophysical Journal ini menantang peran SMC sebagai contoh galaksi.

Awan Magellan Kecil (SMC), pendamping terdekat Bimasakti yang bisa dilihat dari belahan bumi selatan, telah lama membingungkan para astronom karena orbit bintang-bintangnya yang tidak teratur, tidak seperti pola yang teratur pada sebagian besar galaksi. Penelitian terbaru dari University of Arizona, yang dipimpin oleh mahasiswa pascasarjana Himansh Rathore di Steward Observatory, mengaitkan hal ini dengan tabrakan langsung dengan Awan Magellan Besar (Large Magellanic Cloud/LMC) yang lebih besar beberapa ratus juta tahun yang lalu. Saat itu, SMC melewati piringan LMC, menghamburkan bintang-bintang dan melucuti rotasi dari gasnya akibat gaya gravitasi dan tekanan dari gas padat LMC. Rathore mengibaratkannya seperti tetesan air yang ditiupkan dari tangan yang bergerak di udara: "Bayangkan jika kamu memercikkan tetesan air ke tanganmu dan menggerakkannya di udara - saat udara melintas, tetesan air itu akan terhempas karena tekanan yang ditimbulkannya. Hal yang sama terjadi pada gas SMC ketika ia menabrak LMC." Pengamatan sebelumnya dari Teleskop Luar Angkasa Hubble dan satelit Gaia milik ESA menunjukkan tidak ada rotasi bintang, bertentangan dengan rotasi gas yang terlihat, yang dijelaskan oleh penelitian ini sebagai ilusi optik dari bentuk galaksi yang membentang. Gurtina Besla mengatakan, "SMC mengalami tabrakan dahsyat yang menyuntikkan banyak energi ke dalam sistem. Galaksi ini sama sekali bukan galaksi 'normal'. Para peneliti menggunakan simulasi komputer yang mencocokkan sifat-sifat galaksi, termasuk kandungan gas dan massa bintang, untuk memodelkan efek tabrakan. Hal ini membuat SMC tidak bisa digunakan sebagai patokan untuk galaksi-galaksi di alam semesta dini karena kandungan gasnya yang tinggi dan elemen beratnya yang rendah. Sebuah penelitian pada tahun 2025 mengaitkan tabrakan tersebut dengan kemiringan batang pusat LMC, yang memberikan petunjuk tentang kandungan materi gelap SMC. Rathore berkomentar, "Kami melihat sebuah galaksi bertransformasi dalam aksi langsung. Makalah ini muncul di The Astrophysical Journal (DOI: 10.3847/1538-4357/ae4507).

Artikel Terkait

Astronomers have discovered that the Milky Way resides within a vast, flat sheet of matter dominated by dark matter, surrounded by enormous empty voids. This structure explains why most nearby galaxies are moving away from our Local Group rather than being drawn in by gravity. The finding, based on advanced simulations, resolves a longstanding puzzle in cosmology.

Dilaporkan oleh AI

Astronomers have found evidence suggesting that the Sun participated in a large-scale migration of similar stars from the Milky Way's inner regions about 4 to 6 billion years ago. This movement likely carried the solar system to a calmer part of the galaxy. The discovery comes from a detailed study of solar twins using data from the European Space Agency's Gaia satellite.

New analysis of gravitational wave data indicates that the universe's heaviest black holes arise from multiple collisions inside dense star clusters instead of single stellar collapses.

Dilaporkan oleh AI

An international team of astronomers has determined that the Milky Way's star-forming disk ends around 35,000 to 40,000 light-years from the galactic center. Using stellar age mapping, they found a U-shaped pattern where star formation drops sharply beyond this boundary. Stars farther out are mostly older migrants drifting from inner regions.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak