Illustration of Mayo Clinic study revealing 90% gap in genetic screening for familial hypercholesterolemia, featuring lab scientists, DNA data, heart plaque model, and screening call-to-action.
Gambar dihasilkan oleh AI

Mayo Clinic study finds major gaps in genetic screening for inherited high cholesterol

Gambar dihasilkan oleh AI
Fakta terverifikasi

A large Mayo Clinic study reports that current guidelines fail to detect nearly 90% of people with familial hypercholesterolemia, a common inherited cause of dangerously high cholesterol and early heart disease. Researchers analyzed exome data from more than 84,000 participants and found that most would not have been selected for standard genetic testing. Expanding routine DNA screening, they say, could help identify at-risk individuals earlier and prevent severe cardiovascular outcomes.

Familial hypercholesterolemia (FH) is one of the most common genetic disorders, affecting an estimated 1 in 200 to 250 people worldwide. It leads to very high levels of low-density lipoprotein (LDL) cholesterol — often called "bad" cholesterol — beginning at birth, sharply increasing the risk of heart attacks and strokes over a lifetime. Although effective cholesterol-lowering treatments exist, many people with FH remain undiagnosed, and the condition can move quietly through family lines for years.

In a study published in Circulation: Genomic and Precision Medicine, Mayo Clinic researchers used exome sequencing to examine the protein-coding portions of the genome, where most disease-causing mutations occur. More than 84,000 participants at Mayo Clinic locations in Arizona, Florida and Minnesota enrolled through the Tapestry DNA research study, a population-based program designed to bring genomics into routine care.

From this group, the team identified 419 people with genetic variants known to cause familial hypercholesterolemia. According to the Mayo Clinic report on the study, nearly 90% of these individuals would not have been selected for standard genetic testing under existing national guidelines, which rely primarily on cholesterol levels and reported family history. Nearly 75% did not meet current clinical testing criteria, underscoring what researchers describe as a substantial blind spot in prevention efforts.

Roughly 1 in 5 participants with FH-causing variants had already developed coronary artery disease by the time their DNA analysis was reviewed, the study found. That pattern suggests many high-risk patients are not identified until after they develop serious cardiovascular problems.

"Our findings expose a blind spot in current national guidelines, which rely on cholesterol levels and family history to determine who should receive genetic testing," said Niloy Jewel Samadder, M.D., the study's lead author and a Mayo Clinic gastroenterologist and cancer geneticist, in a statement released through Mayo Clinic and ScienceDaily. "If we can find those at risk of cardiovascular disease early, we can treat it early and change its course and likely save lives."

The findings add to Mayo Clinic's broader Tapestry effort, which has generated one of the institution's largest collections of exome data to support individualized care. Tapestry has now sequenced exomes from more than 100,000 participants and is integrating actionable results, including FH-related variants, into electronic health records to guide prevention and treatment.

Mayo Clinic describes this work as central to its Precure strategic priority, which focuses on predicting and preventing serious diseases before they advance. Cardiovascular disease remains the leading cause of death in the United States, and high cholesterol is a major modifiable risk factor. The researchers say that broader, population-based DNA screening for conditions such as familial hypercholesterolemia could dramatically improve early detection and help reduce the long-term burden of heart disease.

Apa yang dikatakan orang

Initial reactions on X to the Mayo Clinic study on gaps in genetic screening for familial hypercholesterolemia are limited but highlight the need for expanded routine DNA screening to detect the condition earlier and prevent heart disease. Users, including scientists and news aggregators, shared summaries emphasizing the 90% miss rate under current guidelines and the potential for genomics-driven prevention. No significant negative or skeptical sentiments observed.

Artikel Terkait

Illustration of scientists analyzing genetic data linking lower cholesterol to reduced dementia risk in a lab setting.
Gambar dihasilkan oleh AI

Studi genetik menghubungkan kolesterol rendah dengan risiko demensia yang berkurang

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI Fakta terverifikasi

Analisis genetik skala besar dari sekitar 1,09 juta orang menunjukkan bahwa kolesterol yang lebih rendah secara genetik seumur hidup—khususnya kolesterol non-HDL—berkaitan dengan risiko demensia yang secara substansial berkurang. Menggunakan randomisasi Mendelian untuk meniru efek target obat penurun kolesterol seperti untuk statin (HMGCR) dan ezetimibe (NPC1L1), studi menemukan hingga sekitar 80% risiko lebih rendah per pengurangan 1 mmol/L untuk beberapa target. ([research-information.bris.ac.uk](https://research-information.bris.ac.uk/en/publications/cholesterollowering-drug-targets-reduce-risk-of-dementia-mendelia?utm_source=openai))

Peneliti di Northwestern Medicine menciptakan skor risiko genomik terintegrasi yang bertujuan memprediksi gangguan irama jantung berbahaya secara dini dengan menggabungkan data varian langka, poligenik, dan seluruh genom. Studi yang ditinjau sejawat di Cell Reports Medicine menganalisis 1.119 orang.

Dilaporkan oleh AI Fakta terverifikasi

Para peneliti telah mengembangkan teknik pemetaan genomik yang mengungkap bagaimana ribuan gen bekerja sama untuk memengaruhi risiko penyakit, membantu menjembatani kesenjangan yang ditinggalkan oleh studi genetik tradisional. Pendekatan ini, yang dijelaskan dalam makalah Nature yang dipimpin oleh ilmuwan dari Gladstone Institutes dan Universitas Stanford, menggabungkan eksperimen sel skala besar dengan data genetik populasi untuk menyoroti target menjanjikan untuk terapi masa depan dan memperdalam pemahaman tentang kondisi seperti gangguan darah dan penyakit yang dimediasi imun.

Peneliti di Universitas McMaster dan Population Health Research Institute melaporkan bahwa pemindaian retina sederhana, dikombinasikan dengan data genetik dan darah, mungkin menawarkan jendela non-invasif ke kesehatan kardiovaskular dan penuaan biologis. Analisis lebih dari 74.000 orang menghubungkan pola pembuluh mata yang lebih sederhana dengan risiko penyakit jantung yang lebih tinggi dan penuaan yang lebih cepat. Studi tersebut, diterbitkan pada 24 Oktober 2025 di Science Advances, menunjukkan alat deteksi dini potensial yang masih dalam penelitian.

Dilaporkan oleh AI

Para peneliti telah mengidentifikasi gen ADAMTS2 sebagai jauh lebih aktif di jaringan otak dari orang Afrika-Amerika dengan penyakit Alzheimer, menandai jalur biologis bersama potensial di seluruh kelompok rasial. Temuan ini muncul dari studi terbesar sejenisnya menggunakan sampel otak dari lebih dari 200 donor Afrika-Amerika. Keunggulan gen ini juga muncul dalam analisis terpisah pada individu Kulit Putih, menunjukkan implikasi yang lebih luas untuk pengobatan.

Para peneliti telah mengidentifikasi 259 gen yang terkait dengan sindrom kelelahan kronis, atau ensefalomielitis mi algik, dalam analisis genetik terbesar hingga saat ini. Temuan ini melipatgandakan jumlah gen yang tersirat enam kali lipat dibandingkan studi hanya empat bulan sebelumnya. Pekerjaan ini menunjukkan jalur potensial untuk pengobatan baru dengan menargetkan faktor genetik.

Dilaporkan oleh AI

Sebuah tim peneliti internasional telah mengidentifikasi jenis diabetes yang sebelumnya tidak dikenal pada bayi baru lahir yang disebabkan oleh mutasi pada gen TMEM167A. Kondisi langka ini menyebabkan gula darah tinggi dan masalah neurologis seperti epilepsi dan mikrocefalia. Temuan tersebut, yang diterbitkan di jurnal medis terkemuka, dapat meningkatkan pemahaman tentang produksi insulin dalam penelitian diabetes yang lebih luas.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak