Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memulai pembongkaran tiang monorel mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, pada 14 Januari 2026. Acara peresmian dipimpin Gubernur Pramono Anung dan dihadiri mantan Gubernur Sutiyoso. Biaya pembongkaran hanya Rp254 juta, sementara Rp100 miliar untuk revitalisasi keseluruhan.
Pada Rabu, 14 Januari 2026, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan pembongkaran tiang monorel mangkrak di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Wakil Gubernur Rano Karno turut hadir, bersama Kepala Kejaksaan DKI Patris Yusrian Jaya dan mantan Gubernur DKI Sutiyoso. Pembongkaran dimulai pukul 09.14 WIB di depan Stasiun LRT Setiabudi, dengan tiga tiang pertama dipotong oleh petugas Dinas Bina Marga menggunakan pengelasan. Proses akan dilanjutkan secara bertahap pada malam hari untuk meminimalkan gangguan.
Pramono menjelaskan bahwa anggaran untuk pembongkaran tiang saja mencapai Rp254 juta, membantah klaim Rp100 miliar hanya untuk itu. "Jadi yang pertama anggaran untuk membongkar aja Rp254 juta," ujar Pramono di Mall Grand Indonesia pada 13 Januari 2026. Dana Rp100 miliar dialokasikan untuk revitalisasi area selama satu tahun, termasuk pengaturan pedestrian, jalan, dan taman. "Yang Rp100 miliar itu adalah anggaran untuk mengatur pedestrian, jalan, taman selama satu tahun penuh," tambahnya.
Total ada 98 tiang monorel yang akan dibongkar sepanjang 3,5 kilometer sisi timur Jalan Rasuna Said. Setelah pembongkaran, jalur cepat dan lambat akan menyatu, menjadi satu jalur busway dan tiga jalur reguler, mirip sisi barat yang telah rapi. Kepala Dinas Bina Marga Heru Suwondo menyatakan fokus awal pada sisi timur. "Sisi timurnya masih terkendala adanya tiang monorel. Makanya akan kita rapikan jalannya," ujar Heru.
Pembongkaran diambil alih Pemprov DKI setelah PT Adhi Karya, pembangun asli, tidak merespons surat November lalu dan melewati batas waktu satu bulan. "Adhi Karya sudah kami surati dan batas waktunya sudah lewat, kami akan melakukan sendiri," tegas Pramono.
Untuk lalu lintas, Polda Metro Jaya siap rekayasa situasional, terutama malam hari di jalur lambat. Direktur Lalu Lintas Komarudin menegaskan personel disiagakan untuk menjaga kelancaran. "Situasional aja. Rencana pembongkaran malam hari dan di jalur lambat," katanya.