Tantangan dalam penanggalan alat-alat dan seni manusia purba

Para arkeolog terus mengungkap bukti teknologi manusia awal dan ekspresi artistik, tetapi menentukan garis waktu yang tepat tetap sulit karena masalah pelestarian dan keterbatasan penanggalan. Temuan terbaru, seperti alat kayu berusia 430.000 tahun di Yunani dan stensil tangan berusia 67.800 tahun di Indonesia, mendorong mundur tanggal yang diketahui, namun para ahli memperingatkan agar tidak melebih-lebihkan penemuan tunggal. Kolumnis Michael Marshall meneliti bagaimana artefak ini membentuk pemahaman kita tentang evolusi manusia.

Dalam kolom terbaru untuk New Scientist, Michael Marshall mengeksplorasi kompleksitas menetapkan garis waktu untuk perkembangan teknologi dan budaya manusia. Ia menyoroti penemuan dua benda kayu di situs di Yunani selatan, berusia sekitar 430.000 tahun, yang digambarkan sebagai alat kayu tertua yang diketahui: satu tampak seperti tongkat gali, dan kegunaan yang lain tidak jelas. Temuan ini sedikit melebihi rekor sebelumnya, termasuk Tombak Clacton dari Inggris, diperkirakan 400.000 tahun, dan tombak kayu dari Schöningen, Jerman, yang usianya direvisi menjadi antara 300.000 dan 200.000 tahun. Marshall mencatat bahwa alat tulang juga muncul awal di Eropa; palu tulang gajah berusia 480.000 tahun ditemukan di Boxgrove di Inggris. Namun, alat tulang berasal jauh lebih awal di Afrika timur, dengan produksi sistematis dari tulang gajah sekitar 1,5 juta tahun lalu. Melangkah maju dalam waktu, arkeolog mendokumentasikan 2.601 artefak batu di Xigou di China tengah, berusia dari 160.000 hingga 72.000 tahun, termasuk alat berpegangan - bukti tertua alat komposit di Asia timur. Di Afrika Selatan, lima ujung panah kuarsit yang dilapisi residu tanaman beracun, berusia 60.000 tahun lalu, merupakan panah beracun tertua yang diketahui, meskipun desain yang konsisten dengan penggunaan tersebut muncul lebih awal. Seni menimbulkan tantangan yang lebih besar. Stensil tangan di gua Sulawesi di Indonesia setidaknya 67.800 tahun, menjadikannya seni batu tertua yang diketahui dan melampaui stensil Neanderthal di Spanyol utara. Penanggalan bergantung pada flowstone mineral, hanya memberikan usia minimum. Marshall menekankan bahwa kayu dan racun mudah terurai, dan banyak seni gua tidak dapat di tanggali dengan metode saat ini. Alat batu tertua, artefak Lomekwian dari Kenya berusia 3,3 juta tahun, menawarkan catatan yang lebih kuat karena pelestarian yang lebih baik. Namun, Marshall memperingatkan bahwa sampel langka untuk alat kayu dan seni yang tidak dapat ditanggali membatasi garis waktu yang dapat diandalkan, mendesak penyelidikan sistematis untuk gambaran yang lebih jelas tentang evolusi manusia.

Artikel Terkait

Stensil tangan yang berasal dari hampir 68.000 tahun lalu, ditemukan di gua di Sulawesi, Indonesia, mungkin merupakan seni batu tertua di dunia. Karya seni tersebut, yang ditemukan di Liang Metanduno di Pulau Muna, menunjukkan tanda-tanda modifikasi yang disengaja agar menyerupai cakar. Ini mendahului contoh-contoh yang diketahui sebelumnya dari Neanderthal di Spanyol lebih dari 1.000 tahun.

Dilaporkan oleh AI

Peneliti menemukan lukisan gua berusia minimal 67.800 tahun di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang menggambarkan adegan naik kuda, perahu, dan perburuan kelompok. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature dan menunjukkan narasi budaya maritim serta interaksi manusia dengan alam sejak zaman purba. Konferensi pers di Jakarta pada 22 Januari 2026 membahas metode penanggalan canggih yang digunakan.

Peneliti menemukan sidik jari manusia parsial yang terawetkan dalam calking perahu Hjortspring, kapal papan tertua di Skandinavia, menunjukkan asal-usulnya di sepanjang pantai Laut Baltik. Perahu berusia 2.400 tahun yang digunakan dalam serangan Zaman Besi di pulau Als Denmark, dianalisis menggunakan metode ilmiah modern. Temuan ini memberikan petunjuk baru untuk misteri berabad-abad tentang pembuat kapalnya.

Dilaporkan oleh AI

Researchers from Sweden and South Africa have found traces of poison on arrowheads dating back 60,000 years in southern Africa. This marks the oldest known use of poisoned arrows to date. The poison comes from the plant gifbol, also known as giftlök in Swedish.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak