Gastroenterolog menjelaskan manfaat diet flexitarian bagi kesehatan usus

Diet flexitarian, pola makan berfokus pada tanaman dengan daging sesekali, menawarkan keuntungan potensial bagi kesehatan usus, menurut para gastroenterolog. Pendekatan ini menekankan sayuran, biji-bijian utuh, dan makanan fermentasi sambil membatasi barang olahan. Para ahli menyoroti fleksibilitasnya yang didukung sains sebagai pilihan gaya hidup berkelanjutan.

Diet flexitarian berpusat pada makanan berbasis tanaman, memasukkan daging atau ikan hanya secara sporadis. Para gastroenterolog mencatat bahwa pola kaya tanaman seperti itu mendukung mikrobioma usus, yang berkembang subur berkat serat beragam dari sayuran, polong-polongan, dan biji-bijian utuh. Keragaman ini memupuk bakteri bermanfaat, berpotensi meningkatkan pencernaan dan mengurangi masalah seperti kembung atau sembelit. Dokter sering mengamati perbaikan pencernaan ini pada pasien yang mengadopsi kebiasaan serupa. Misalnya, memasukkan kacang, lentil, kacang-kacangan, dan biji menyediakan protein nabati yang membantu fungsi usus tanpa bergantung pada sumber hewani setiap hari. Makanan fermentasi, seperti yogurt atau buttermilk, semakin meningkatkan manfaat dengan memperkenalkan probiotik yang mempromosikan mikrobioma seimbang. Fleksibilitas diet ini membedakannya dari rezim vegan atau vegetarian yang lebih ketat, membuat kepatuhan lebih mudah seiring waktu. Panduan praktis mencakup membangun makanan berdasarkan sayuran dan biji-bijian, memperlakukan daging sebagai tambahan sesekali, dan menghindari makanan olahan atau alternatif vegan kemasan. Minuman ramah usus, seperti yang dengan fermentasi alami, dapat melengkapi pendekatan ini. Berbeda dengan tren makanan yang sementara, diet flexitarian menarik minat berkelanjutan dari profesional medis karena keselarasannya dengan bukti ilmiah tentang kesehatan jangka panjang. Ini mendorong pergeseran bertahap menuju asupan tanaman lebih banyak, mendukung kesejahteraan pencernaan secara keseluruhan tanpa aturan kaku.

Artikel Terkait

Relieved Crohn's patients in Stanford clinic with fasting-mimicking diet calendar, healthy meals, and positive trial results charts.
Gambar dihasilkan oleh AI

Five-day monthly fasting-mimicking diet eased symptoms and inflammation in Crohn’s trial

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI Fakta terverifikasi

A Stanford Medicine-led randomized trial in the United States found that a five-day-per-month fasting-mimicking diet was linked to improved patient-reported symptoms and lower biological markers of inflammation in adults with mild-to-moderate Crohn’s disease. The results were published in Nature Medicine.

New research links chronic stress combined with late-night eating to increased risks of constipation, diarrhea, and reduced gut microbiome diversity. Scientists analyzed data from over 11,000 participants in a national survey. The findings are set to be presented at Digestive Disease Week on May 4.

Dilaporkan oleh AI Fakta terverifikasi

A small 2023 study of adults with obesity in China found that an intermittent energy restriction program was associated with weight loss and changes in gut bacteria alongside altered activity in brain regions linked to appetite, cravings and self-control.

Eliminating sucrose from a low-fat diet worsened glucose tolerance and altered the gut microbiome in mice over 16 weeks, according to results presented on Saturday, June 13, 2026, at ENDO 2026, the Endocrine Society’s annual meeting in Chicago.

Dilaporkan oleh AI

Ethiopian health experts are advising caution in food intake during Eid al-Fitr to avoid health risks. Consuming spoiled food heightens the chance of indigestion, stomach cramps, diarrhea, and other illnesses.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak