Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 7 persen pada pembukaan perdagangan Kamis (29/1/2026), memicu trading halt oleh BEI. Penurunan ini dipicu pengumuman MSCI yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia karena isu transparansi free float. Risiko penurunan status pasar dari emerging ke frontier market kian membayangi.
Pada Rabu (28/1/2026), MSCI mengumumkan pembekuan penambahan saham Indonesia dalam rebalancing indeks Februari 2026, menyoroti keterbatasan transparansi free float—porsi saham yang benar-benar dimiliki publik dan aktif diperdagangkan. Hal ini memicu arus keluar dana asing mencapai Rp6,17 triliun pada hari itu, menyebabkan IHSG tutup melemah 7,35 persen ke level 8.320,56.
Keesokan harinya, IHSG dibuka di 8.027,83 dan langsung tertekan, anjlok 7,09 persen atau 590,23 poin ke 7.730,33 pada pukul 09.20 WIB, dengan nilai transaksi Rp9,27 triliun dan 641 saham melemah. BEI melakukan trading halt selama 30 menit pada pukul 09.26 WIB ketika IHSG mencapai penurunan 8 persen ke 7.654,66. "Tindakan ini dilakukan karena terdapat penurunan IHSG yang mencapai 8 persen," kata Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad.
Ajaib Sekuritas menilai risiko penurunan status pasar Indonesia dari emerging market ke frontier market meningkat jika masalah free float tak segera diselesaikan, berpotensi memicu outflow dana global karena mandat investasi indeks terbatas. IHSG year-to-date melemah 3,77 persen, terendah di ASEAN. Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih menyatakan, "IHSG terkoreksi di tengah arus keluar dana investor asing yang mencapai Rp6,17 triliun pada perdagangan 28 Januari."
Di tengah volatilitas, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengumumkan rencana buyback saham hingga Rp5 triliun pasca-RUPST 12 Maret 2026, untuk dukung stabilitas pasar. "Pelaksanaan share buyback ini dilakukan dalam rangka turut mendukung stabilitas pasar modal Indonesia," ujar EVP BCA Hera F. Haryn.
BEI merespons dengan menyusun formula baru free float untuk diskusi dengan MSCI sebelum Mei 2026. Direktur Utama BEI Iman Rachman berharap proses berjalan lancar, sementara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut reaksi pasar berlebihan dan hanya syok sesaat, dengan perbaikan akan dilakukan tepat waktu.