Illustration depicting the rising IHSG index on the Indonesia Stock Exchange trading floor amid global tension from the US-Venezuela conflict involving Maduro's capture.
Illustration depicting the rising IHSG index on the Indonesia Stock Exchange trading floor amid global tension from the US-Venezuela conflict involving Maduro's capture.
Gambar dihasilkan oleh AI

IHSG menguat di tengah gejolak konflik AS-Venezuela

Gambar dihasilkan oleh AI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 30,60 poin atau 0,35 persen menjadi 8.778,73 pada Senin (5/1/2026), meskipun sentimen negatif dari konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela. AS dilaporkan menyerang Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya atas tuduhan terorisme dan narkoba. Analis memprediksi potensi kenaikan lanjutan jika IHSG menembus level resistensi tertentu.

Pada pembukaan perdagangan Senin (5/1/2026), IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak menguat 30,60 poin atau 0,35 persen ke level 8.778,73. Kelompok saham unggulan LQ45 juga naik 2,08 poin atau 0,24 persen menjadi 854,08. Pergerakan positif ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan geopolitik global akibat serangan AS terhadap Venezuela, di mana pasukan AS menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya untuk diadili di New York atas tuduhan terorisme dan narkoba.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS akan mengendalikan Venezuela hingga terjadi transisi kekuasaan, serta memungkinkan perusahaan AS memasuki negara tersebut untuk memperbaiki struktur industri minyak. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengatakan, "IHSG berpotensi terimbas sentimen negatif jika terjadi tekanan jual dari investor asing. Namun jika terjadi kenaikan harga minyak mentah dan emas, diperkirakan akan mendorong kenaikan harga saham sektor energi dan komoditas terkait."

Ratna juga menyoroti bahwa eskalasi ketegangan politik ini akan menjadi fokus pelaku pasar pekan ini, dengan kekhawatiran investor beralih ke aset aman seperti dolar AS dan emas. Di sisi lain, Head of Retail Research PT BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memprediksi IHSG berpotensi lanjut menguat jika menembus resistensi 8.750, dengan support di 8.500-8.660 dan resistensi di 8.820-8.850.

Analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova, menambahkan bahwa IHSG telah menembus resistensi 8.742, membuka peluang menuju 8.877 selama bertahan di atas 8.599. Sentimen positif juga didukung oleh penguatan bursa Asia, seperti Nikkei yang naik 2,73 persen menjadi 51.704,00, dan Shanghai naik 0,68 persen. Bursa AS Wall Street tutup variatif pada Jumat (2/1), dengan Dow Jones turun 0,66 persen ke 48.382,39, sementara S&P 500 naik 0,19 persen ke 6.858,47.

Pelaku pasar domestik juga mencermati data ekonomi seperti inflasi, neraca perdagangan, dan consumer confidence pekan ini.

Artikel Terkait

Realistic depiction of worried traders on the Jakarta Stock Exchange floor as IHSG drops 67 points to 8,255.18 on February 26, 2026, with rupiah strengthening amid correction warnings.
Gambar dihasilkan oleh AI

IHSG drops 67 points in first trading session on February 26, 2026

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

The Composite Stock Price Index (IHSG) fell 0.81 percent or 67.04 points in the first trading session on Thursday, February 26, 2026, reaching 8,255.18. The decline occurred despite a slight opening gain, while the rupiah strengthened to around Rp 16,744 per US dollar. Analysts warn of potential further corrections with key support at 8,200.

The Composite Stock Price Index (IHSG) rose slightly by 2.71 points or 0.03 percent to 8,019.54 in the first trading session on Tuesday, March 3, 2026, halting a correction trend due to Middle East geopolitical tensions. The energy sector led the gains with a 1.46 percent surge, followed by top performers like PTBA and AADI. The rupiah also strengthened marginally to Rp 16,863 per US dollar.

Dilaporkan oleh AI

The Composite Stock Price Index (IHSG) opened stronger by 37 points or 0.45 percent at 8,318 on trading Wednesday, February 25, 2026. However, analysts predict a continued correction to the 8,200-8,250 level due to uncertainty over US tariffs under President Donald Trump. Global sentiments from China and Europe also influence the outlook for Indonesia's stock market.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak