Dua asteroid bertabrakan di sekitar bintang terdekat Fomalhaut

Para astronom telah mengamati tabrakan antara dua asteroid besar yang mengorbit bintang muda Fomalhaut, menciptakan awan debu baru yang menyelesaikan misteri lama tentang planet yang tampak. Peristiwa ini, yang ditangkap oleh Teleskop Luar Angkasa Hubble, menunjukkan bahwa tabrakan serupa mungkin telah membentuk sistem planet awal seperti milik kita. Penemuan ini menyoroti aktivitas tak terduga di sekitar bintang terdekat ini.

Bintang Fomalhaut, yang terletak hanya 25 tahun cahaya dari Bumi, telah lama membingungkan para astronom dengan cakram puing-puing dan fitur anomali. Pada 2008, pengamatan dari Teleskop Luar Angkasa Hubble pada 2004 dan 2005 mengungkap apa yang tampak seperti planet raksasa, yang dijuluki Fomalhaut b, lebih besar dari Jupiter. Data selanjutnya memicu perdebatan: apakah itu planet atau hanya awan debu sementara?

Pencitraan Hubble baru-baru ini pada 2023 membawa kejelasan. Paul Kalas dari University of California, Berkeley, dan timnya menemukan bahwa Fomalhaut b telah menghilang, tetapi muncul titik terang baru, Fomalhaut cs2. "Pada 2023, kami menggunakan instrumen yang sama seperti [sebelumnya], dan kami tidak mendeteksi Fomalhaut b – itu tidak terlihat lagi," jelas Kalas. "Tapi yang benar-benar mengejutkan kami adalah [bahwa] ada Fomalhaut b baru."

Analisis menunjukkan Fomalhaut cs2 adalah debu dari tabrakan antara dua planetesimal, masing-masing sekitar 60 kilometer lebarnya. Pudarnya Fomalhaut b asli menunjukkan itu adalah sisa tabrakan serupa. David Kipping dari Columbia University mencatat, "Sumber-sumber ini berisik dan tidak teratur, jadi kami masih jauh dari kesimpulan tegas. Tapi, semua bukti hingga saat ini tampaknya cocok rapi di bawah penjelasan payung tabrakan antara proto-planet di sistem yang sedang lahir."

Peristiwa seperti itu jarang secara teori—terjadi mungkin sekali setiap 100.000 tahun—namun dua telah terlihat di sekitar Fomalhaut hanya dalam dua dekade. "Teori menyatakan bahwa Anda seharusnya tidak melihat tabrakan ini kecuali sekali setiap 100.000 tahun atau lebih jarang. Namun, entah mengapa, kami telah melihat 2 peristiwa dalam 20 tahun," kata Kalas. "Fomalhaut berkilau seperti pohon liburan, dan itu kejutan."

Pengamatan mendatang dengan Hubble dan Teleskop Luar Angkasa James Webb selama tiga tahun ke depan akan melacak perubahan ini. "Kami tidak lagi harus bergantung hanya pada teori untuk memahami dampak kekerasan ini; kami benar-benar bisa melihatnya," tambah Kalas. Kipping menyarankan ini menawarkan wawasan tentang pembentukan tata surya kita, termasuk dampak pembentuk bulan: "Kami lama bertanya-tanya apakah dampak pembentuk bulan itu khas atau tidak di luar pantai kosmik kita, dan di sini kami melihat bukti kuat bahwa tabrakan adalah hal biasa. Mungkin kami tidak seaneh yang diduga beberapa orang."

Artikel Terkait

Bintang mirip Matahari yang berjarak 3.000 tahun cahaya tiba-tiba meredup selama sembilan bulan, mengungkap awan gas dan debu kolosal yang kemungkinan berasal dari tabrakan planet. Astronom menggunakan teleskop canggih untuk mengukur angin logam di dalam awan untuk pertama kalinya. Peristiwa ini menyoroti kekacauan yang sedang berlangsung di sistem bintang kuno.

Dilaporkan oleh AI

Para astronom telah menemukan bintang pendamping yang mengorbit kappa Tucanae A yang kemungkinan mempertahankan awan debu ultra-panas yang membingungkan. Terletak 70 tahun cahaya dari Bumi, debu tersebut bertahan dalam kondisi ekstrem di dekat bintang utama, menantang pemahaman sebelumnya tentang sistem planet. Penemuan ini, yang dicapai melalui interferometri canggih, dapat membantu pencarian masa depan untuk eksoplanet seperti Bumi.

Astronom memprediksi penjajaran langka dua planet dan bintangnya di sistem Kepler-89 pada 1 April 2026, tetapi peristiwa itu mungkin lewat tanpa teramati karena akses teleskop ditolak. Eksosisigi ini, yang pertama kali diidentifikasi pada 2010, menawarkan kesempatan unik untuk mempelajari orbit planet, namun komplikasi penjadwalan menggagalkan upaya pengamatan. Peneliti tetap optimis terhadap prediksi sambil merencanakan peluang masa depan.

Dilaporkan oleh AI

Para astronom telah mengidentifikasi Champagne Cluster, penggabungan dua kelompok galaksi yang ditemukan pada Malam Tahun Baru 2020. Penampilan berbuih sistem dan gas superpanas membuatnya mendapat julukan meriah. Peristiwa langka ini memberikan wawasan tentang perilaku materi gelap selama tabrakan kosmik.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak