Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada Selasa (24/2/2026) seiring data penerimaan pajak Januari yang solid. Analis memprediksi potensi kenaikan terbatas hingga level 8.450, meski risiko koreksi tetap ada. Faktor domestik seperti konsumsi kuat mendukung sentimen positif.
Pembukaan IHSG dan Analisis Teknis
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka naik 31,97 poin atau 0,38 persen menjadi 8.428,05 pada Selasa (24/2/2026). Indeks LQ45 juga menguat 0,92 poin atau 0,11 persen ke 848,68.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyatakan bahwa secara teknikal, IHSG berpotensi menguat terbatas. "Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance di kisaran 8.310–8.450. Potensi koreksi tetap terbuka, sehingga perlu kehati-hatian," ujar Nico di Jakarta.
Head of Retail Research PT BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menambahkan bahwa IHSG berpotensi menembus resistance di 8.450, dengan support di 8.320–8.350. Analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova, memprediksi target 8.482 jika IHSG bertahan di atas 8.324.
Data Penerimaan Pajak Januari 2026
Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak Januari 2026 mencapai Rp116,2 triliun, tumbuh 30,7 persen secara tahunan (yoy) atau 4,9 persen dari target APBN 2026. Kenaikan ini didorong Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPnBM yang melonjak 83,9 persen yoy menjadi Rp45,3 triliun, mencerminkan konsumsi domestik yang kuat, serta penurunan restitusi 23 persen.
PPh badan tumbuh 37 persen yoy menjadi Rp5,7 triliun. PPh orang pribadi dan PPh 21 sebesar Rp13,1 triliun kontraksi 20,4 persen yoy karena faktor administratif seperti deposit Rp6,1 triliun yang belum dipindahbukukan; jika disesuaikan, pertumbuhannya 16,5 persen yoy. PPh final, PPh 22, dan PPh 26 turun 11 persen yoy menjadi Rp26 triliun. Pajak lainnya naik 685,8 persen yoy menjadi Rp16,1 triliun, termasuk deposit Rp15,4 triliun.
Nico menilai data ini menunjukkan sinyal kuat bagi penerimaan negara. "Ini mengindikasikan daya beli domestik relatif terjaga di awal tahun, yang positif bagi pertumbuhan kuartal I. Namun perlu dicermati bahwa sebagian pertumbuhan juga dipengaruhi faktor teknis seperti penurunan restitusi dan belum dipindahbukukannya sejumlah deposit pajak," katanya.
Konteks Global
Pasar global menunjukkan variasi. Bursa AS seperti Dow Jones turun 1,66 persen ke 48.804,06 pada Senin (23/2/2026) akibat kekhawatiran AI dan kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Trump berencana menerapkan tarif baru 15 persen untuk semua impor AS setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif sebelumnya. Bursa Asia pagi ini bercampur, dengan Nikkei naik 0,47 persen dan Hang Seng turun 1,69 persen.
Senior Market PT Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, menyebut tarif 0 persen untuk produk Indonesia-AS sebagai angin segar, meski putusan Mahkamah Agung AS menimbulkan kewaspadaan.