Mikroplastik terdeteksi pada serangga asli satu-satunya di Antartika

Para ilmuwan telah mengonfirmasi bahwa Belgica antarctica, serangga paling selatan di Bumi, menelan mikroplastik di alam liar. Eksperimen laboratorium mengungkapkan bahwa meskipun larva serangga bertahan dari paparan jangka pendek, kadar plastik yang lebih tinggi menyebabkan cadangan lemak berkurang. Temuan ini menyoroti jangkauan global polusi plastik, bahkan di Antartika yang terisolasi.

Sebuah tim internasional, yang dipimpin oleh peneliti dari Martin-Gatton College of Agriculture, Food and Environment di University of Kentucky, telah menerbitkan studi pertama tentang efek mikroplastik pada serangga Antartika. Penelitian, yang dirinci dalam Science of the Total Environment pada 2025, mengonfirmasi partikel plastik pada spesimen liar Belgica antarctica, chironomid non-gigit seukuran beras yang unik di Antartika.  nnProyek ini dimulai pada 2020 ketika Jack Devlin, saat itu mahasiswa Ph.D., terinspirasi oleh dokumenter tentang polusi plastik. «Menonton film itu benar-benar membuka pikiranku,» kata Devlin. «Aku mulai membaca tentang efek plastik pada serangga dan berpikir, 'Jika plastik muncul di mana-mana, bagaimana dengan tempat langka seperti Antartika?'»  nnLarva Belgica antarctica hidup di lumut basah dan matras alga di sepanjang Semenanjung Antartika, mencapai kepadatan hampir 40.000 per meter persegi. Poly-extremophile ini bertahan dari dingin ekstrem, kekeringan, salinitas, fluktuasi suhu, dan radiasi UV sambil mendaur ulang nutrisi dalam ekosistem tanah.  nnMeskipun Antartika terpencil, mikroplastik masuk melalui arus laut, angin, dan aktivitas manusia di stasiun penelitian. Dalam uji laboratorium selama 10 hari, larva yang terpapar konsentrasi plastik tinggi tidak menunjukkan penurunan kelangsungan hidup atau metabolisme dasar. Namun, mereka menunjukkan cadangan lemak yang lebih rendah, yang krusial untuk energi dalam kondisi keras. «Bahkan pada konsentrasi plastik tertinggi, kelangsungan hidup tidak turun,» catat Devlin. «Metabolisme dasar mereka juga tidak berubah. Di permukaan, mereka tampak baik-baik saja.»  nnPekerjaan lapangan selama pelayaran 2023 mengumpulkan larva dari 20 situs di 13 pulau. Analisis 40 spesimen, menggunakan pencitraan canggih untuk mendeteksi partikel sekecil empat mikrometer, mengidentifikasi dua fragmen mikroplastik. Devlin melihat ini sebagai indikator awal: «Antartika masih memiliki kadar plastik jauh lebih rendah daripada sebagian besar planet, dan itu kabar baik. Studi kami menunjukkan bahwa, saat ini, mikroplastik tidak membanjiri komunitas tanah ini. Tapi sekarang kita bisa katakan bahwa mereka masuk ke sistem, dan pada tingkat yang cukup tinggi mereka mulai mengubah keseimbangan energi serangga.»  nnTanpa predator darat, plastik tidak mungkin terakumulasi secara bio signifikan. Namun, kekhawatiran tetap ada untuk dampak jangka panjang, terutama di tengah perubahan iklim. Studi masa depan akan memeriksa paparan berkepanjangan dan efek multi-stres pada organisme tanah Antartika. Pekerjaan ini didanai oleh Antarctic Science International Bursary, U.S. National Science Foundation, dan National Institute of Food and Agriculture.

Artikel Terkait

Microscopic illustration of prostate tumor tissue containing higher levels of microplastics than nearby benign tissue, from NYU pilot study.
Gambar dihasilkan oleh AI

Pilot study finds microplastics in most prostate tumor samples, with higher levels than nearby benign tissue

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI Fakta terverifikasi

Researchers at NYU Langone Health reported detecting microplastics in prostate tumor tissue from a small group of men undergoing prostate removal surgery, with average concentrations about 2.5 times higher in tumor samples than in nearby noncancerous tissue. The team says the findings, scheduled for presentation Feb. 26, 2026, at the American Society of Clinical Oncology’s Genitourinary Cancers Symposium, add early evidence that microplastic exposure could be relevant to prostate cancer but do not establish cause and effect.

A study reveals that microplastics have infiltrated fish in isolated Pacific waters, with about one-third of sampled coastal fish containing the particles. Fiji shows particularly high levels, affecting nearly 75% of fish, while Vanuatu has much lower contamination at 5%. The findings highlight risks to local communities reliant on seafood.

Dilaporkan oleh AI

Recent research has cast doubt on alarming claims about microplastic ingestion, such as consuming a credit card's worth weekly. While microplastics are widespread in the environment and human tissues, studies suggest exposure levels are far lower than feared, and health impacts remain unclear. Experts urge caution until more rigorous data emerges.

Researchers have used a synchrotron particle accelerator, robotics, and AI to create high-resolution 3D models of ants from 800 species. The project scanned 2,000 specimens in just one week, far faster than traditional methods. This effort, called Antscan, aims to build a digital library of insect biodiversity.

Dilaporkan oleh AI

Fungus-farming ants have developed a way to capture atmospheric carbon dioxide and incorporate it into their exoskeletons as dolomite, a mineral that strengthens their armour and regulates nest air quality. This process, observed in species from Central and South America, occurs without the need for high temperatures or pressures that challenge lab synthesis. Researchers suggest it could inspire human carbon capture techniques.

Two major crop pests, the cotton bollworm and corn earworm, have interbred in Brazil, creating hybrids resistant to multiple pesticides. This development poses risks to soya production and food security worldwide. Experts warn of potential yield losses and environmental impacts if the pests spread unchecked.

Dilaporkan oleh AI

Researchers have discovered 24 previously unknown species of deep-sea amphipods in the Clarion-Clipperton Zone of the central Pacific Ocean, including an entirely new superfamily. The findings, detailed in a ZooKeys special issue published on March 24, highlight previously unknown branches of life in one of Earth's least explored ecosystems. The work advances efforts to catalog biodiversity amid growing interest in deep-sea mining.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak