Fosil Biota Jiangchuan di Yunnan ungkap hewan kompleks sebelum ledakan Kambrium

Lebih dari 700 fosil dari Biota Jiangchuan di Provinsi Yunnan, Tiongkok barat daya, yang berasal dari 554-539 juta tahun lalu pada masa Ediakara akhir, mencakup kerabat awal bintang laut, cacing biji, deuterostoma, dan bilaterian lainnya. Dipimpin oleh Dr. Gaorong Li dari Universitas Yunnan, penemuan ini—setelah hampir satu dekade kerja lapangan—menantang anggapan bahwa ledakan Kambrium terjadi secara mendadak dengan menunjukkan bahwa komunitas hewan yang beragam telah ada sebelumnya. Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science (DOI: 10.1126/science.adu2291) ini menampilkan lapisan karbon yang terpelihara dengan sangat baik, mengungkap detail halus seperti sistem pencernaan.

Tim kolaboratif dari Universitas Yunnan (termasuk Profesor Peiyun Cong dan Feng Tang, serta Lektor Kepala Fan Wei), Museum Sejarah Alam dan Departemen Ilmu Bumi Universitas Oxford (Dr. Ross Anderson, Frankie Dunn, Luke Parry), menemukan fosil-fosil tersebut di sebuah lokasi yang melestarikan ekosistem transisi antara dunia Ediakara dan Kambrium. Temuan tersebut mencakup bilaterian seperti cacing, ubur-ubur sisir awal, cambroernid dengan tubuh melingkar dan tentakel, struktur tabung yang menyerupai Margaretia, hewan tertambat dengan pelengkap berbentuk tabung yang dapat memanjang (mengingatkan pada cacing pasir dalam Dune), serta cacing berbentuk sosis yang dapat bergerak dan memiliki mulut, usus, dan faring. Berbeda dengan impresi batu pasir Ediakara pada umumnya, lapisan karbon ini menunjukkan fitur rumit seperti struktur makan yang dapat dibalik dan asosiasi dengan alga. Penulis utama Dr. Gaorong Li, yang memulai penggalian besar pada pertengahan 2022 dengan harapan hanya menemukan alga, menyoroti keragaman deuterostoma—kelompok yang mencakup vertebrata. Dr. Frankie Dunn mencatat bahwa ambulacraria (kerabat bintang laut dan cacing biji) menyiratkan adanya kordata yang hidup sezaman, sementara Dr. Luke Parry menyebutnya sebagai 'komunitas transisi.' Dr. Ross Anderson menjelaskan kelangkaan fosil sebelumnya dikarenakan pelestarian yang luar biasa di lokasi ini, yang menunjukkan perkembangan yang lebih bertahap menuju diversifikasi Kambrium. Lektor Kepala Fan Wei menunjuk pada situs-situs yang terpelihara bersama alga, Profesor Feng Tang menganggapnya sebagai bukti kuat bagi bilaterian Ediakara akhir, Joe Moysiuk menekankan waktu divergensi 30 juta tahun tanpa menyangkal adanya ledakan tersebut, dan Han Zeng mendesak dilakukannya verifikasi sebagai terobosan potensial.

Artikel Terkait

Scientists have determined that structures once seen as traces of tiny animals in 540-million-year-old Brazilian rocks are actually fossilized communities of bacteria and algae. The reexamination uses advanced imaging to reveal preserved cells and organic material.

Dilaporkan oleh AI

Researchers at MIT have discovered chemical evidence in rocks over 541 million years old suggesting that ancient sea sponges were among Earth's first animals. The findings, published in the Proceedings of the National Academy of Sciences, identify molecular fingerprints matching compounds from modern demosponges. This builds on earlier work and confirms the signals originate from biological sources rather than geological processes.

Researchers at Yale University have proposed a new model explaining the dramatic fluctuations in Earth's magnetic field during the Ediacaran Period, from 630 to 540 million years ago. Their analysis of rocks from Morocco suggests these changes followed a structured global pattern rather than random chaos. The findings, published in Science Advances, could improve reconstructions of ancient continents.

Dilaporkan oleh AI

The end-Permian extinction, which occurred 252 million years ago, eliminated over 80 percent of marine species, yet many ocean ecosystems maintained complex structures with top predators surviving. A new study of seven global marine sites reveals that despite severe losses, five ecosystems retained at least four trophic levels. This suggests ecosystems' resilience depends on their unique species compositions, offering insights for modern climate threats.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak